Aku merayu dengan gairah menyala
Mengodanya dengan liar
Memuliakannya dengan nafsu. Memompa harapan-harapan semu.
Aku mengundang cahaya kedalam maya
Aku menggeser malam-malam kosongnya dengan mimpi
Aku meronta pada taring-taring anak buah dewa
Aku tak bisa hidup. Aku hanya bisa mati.
Karena sejarah-sejarah yang aku ukir menghimpit rusuk ini.
Mereka meniupkan kekuasaanku ketanah lapang,
Ketempat penguasa berada!
Aku mencoba menyalakan lentera disudut kematian
Aku kehilangan keseimbangan saat binatang-binatang mengauliku
Aku bersujud pada ketidakwarasan
Kakiku tertarik pada api-api dan timah-timah busuk
Aku bersimpuh, meminta cawan susu pada penghidang maut.
. . .
. . .
Laksana tuhan,
Aku menyalakan api pada awal kehidupan
Satu persatu mendaki sampai puncak tertinggi
Aku tertawa
Ketika kaki yang lamban mulai mengubah kebodohannya
Aku bangkit dari ketidaksadaran
Mengamati air-air
Yang mengalir dari lembah-lembah cinta kedalam rusuk roh-roh abadi
Aku menghiasi kitabku dengan simpul harapan
Aku tersadar,
Saat aku bercumbu dan berbiak
Berkhayal seperti elang gunung
Aku merasakannya,
Merasakan sentuhan pertama dengan bidadara tampan.
Menggerakkan tubuh dengan satu tatapan natural
Terima kasih
Aku sudah sampai
Pada tempat yang mereka sebut
Surga.

No comments:
Post a Comment
Thaks For Your Comments