Lama kuhirup putik lily dihadapan duri-duri mawar hitam.
Menyiratkan keanggunan dalam batas keangkuhan dewa.
Menarik benang merah pada tumpukan komik-komik cinta. Mewarnai dalam jingga. Terombang-ambing pada sandiwara.
Memikirkan angka-angka dan juga prasangka.
Dan tak ada yang keluar dari bom waktu selain, magma.
Perjalan ke-18 ini. Membutuhkan lebih banyak panah. Tak lebih untuk menghukum lebah-lebah penghisap nanah.
Ya nanahku. Semangatku.
Pada akhirnya ini tinggal sebuah cerita sejarah dalam roman-roman pecundang zaman jahiliyah.
Hanyalah seperti buku-buku usang karya rayap-rayap tampan.

yang ini gw agak ngerti dikiiittt....
ReplyDeletenah, masalah komen gw bingung mau komen apah neekk....
haha . .
ReplyDeleteada2 ajah aaah..